MEMAKNAI MUSIBAH SEBAGAI PINTU MENUJU KEBAIKAN

 


"Belajar dari galodo dan arus; tentang bagaimana pendinginan bukan akhir dari cerita, melainkan cara alam mencuci hati agar lebih tangguh bersujud."

 


Pagi itu, mungkin rencana kita sederhana: pergi ke sawah, membuka kedai, atau sekadar menikmati kopi di bawah kaki Marapi yang kokoh. Namun, alam memiliki bahasanya sendiri. Langit yang pekat dan pusaran air yang turun dari hulu seketika mengubah segalanya. Dalam sekejap, apa yang kita bangun dengan peluh bertahun-tahun rumah, ladang, hingga kenangan hanyut diterjang banjir dan galodo .

Bagi kita di ranah Minang, musibah bukan sekedar angka kerugian di berita televisi. Ia adalah tangis yang pecah di tengah pekatnya lumpur dan ketenangan saat melihat harta benda yang tak lagi berbekas. Rasanya seperti kehilangan pegangan; seolah-olah bumi yang kita pijak tak lagi ramah. Kita tertegun, bertanya-tanya di langit yang masih mendung: "Mengapa ujian ini begitu berat?"

Namun, di sela-sela puing rumah yang hayut dan jalanan yang terputus, kita melihat sesuatu yang tak bisa dihanyutkan air: ketangguhan. Di tengah duka, ada tangan yang saling menggenggam, ada dapur umum yang berdiri karena kepedulian sesama, dan ada sujud yang jauh lebih dalam di hamparan sajadah yang tersisa. Banjir ini, meski menyisakan luka yang menganga, seolah menjadi cara paksa alam untuk membasuh hati kita dari debu kesombongan, mengingatkan kita bahwa tak ada yang benar-benar kita miliki selain sandaran kepada Sang Pencipta. 

Seringkali, saat musibah besar melanda seperti banjir yang menghantam pemukiman, bisikan pertama yang muncul di benak adalah rasa bersalah: 

"Apakah ini kutukan? Apakah kita dihukum?" 

Sudut pandang ini seringkali justru melumpuhkan semangat untuk bangkit karena kita merasa “dibuang” oleh keadaan. Namun, untuk menikmati musik yang nikmat, kita perlu menggeser lensa pandang kita melalui dua pendekatan:

Musibah sebagai "Proses Pembersihan

        Ibarat air banjir yang menyapu segala kotoran, musibah seringkali datang untuk "mencuci" hati kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mulai silau dengan harta, sombong dengan jabatan, atau lalai dengan urusan akhirat. Air yang menghanyutkan harta benda fisik sebenarnya sedang mengingatkan kita pada hakikat bahwa tak ada yang abadi. Ia membersihkan kita yang terlalu kuat di dunia, memaksa kita kembali bersih secara spiritual, dan menyadarkan bahwa keselamatan nyawa serta iman jauh lebih berharga dari sekedar materi yang bisa dicari Kembali.

    Di ranah Minang, kita mengenal pepatah “Alam takambang jadi guru.” Alam yang sedang tidak bersahabat ini adalah guru yang keras namun jujur. Musibah menguji seberapa dewasa kita dalam merespons ketetapan Tuhan. Pendewasaan terjadi saat kita berhenti merutapi nasib dan mulai bertanya, "Bagaimana kita memperbaiki drainase ke depan?" atau "Bagaimana kita lebih peduli pada kelestarian hutan di hulu?

    Secara sosial, musibah mendewasakan masyarakat. Ia menumbuhkan solidaritas yang kuat—yang muda membantu yang tua, yang mampu membantu yang kekurangan. Kedewasaan ini lahir karena kita dipaksa keluar dari zona nyaman untuk menjadi manusia yang lebih tangguh dan peka. Meskipun kita mencoba memahami bahwa musibah adalah proses pembersihan dan pendewasaan, bukan berarti kita dilarang untuk merasa sakit. Seringkali, saat seseorang tertimpa musibah banjir atau kehilangan harta benda, ada tekanan untuk "cepat-cepat sabar" atau "langsung ikhlas". Padahal, sabar bukan berarti tidak merasa, dan ikhlas bukan berarti tidak menangis. Sangat manusiawi jika saat ini hati Anda dipenuhi rasa sesak, kecewa, atau bahkan amarah melihat rumah yang berlumpur dan usaha yang hancur. Mengakui bahwa kita sedang "tidak baik-baik saja" bukanlah tanda lemahnya iman. Justru, ini adalah pengakuan jujur ​​yang akan membatasi kita sebagai hamba. Luka yang tidak diakui tidak akan pernah sembuh; ia hanya akan terpendam dan menjadi racun di kemudian hari. Lalu, bagaimana menghubungkan kesedihan ini dengan konsep "pembersihan" yang dibahas sebelumnya?

Bayangkan sebuah luka fisik yang kotor. Untuk membersihkannya agar tidak infeksi, luka itu harus disiram dengan cairan antiseptik. Rasanya perih, terkadang membuat kita ingin menjerit. Kesedihan dan amarah yang kita rasakan saat ini adalah "rasa perih" dari proses pembersihan jiwa tersebut.

Pendewasaan tidak terjadi dalam semalam. Air mata yang jatuh saat melihat puing-puing pasca-banjir adalah bagian dari proses lunturnya ego kita. Kita sedang dipaksa untuk melepaskan beban emosional agar nantinya bisa berdiri lebih ringan dan lebih kuat.

Jangan menambahkan beban musik dengan rasa bersalah karena Anda merasa sedih. Tuhan menciptakan air mata agar ada jalan bagi sesak di dada untuk keluar. Menangisilah jika itu meringankan, mengadulah pada Sang Pemilik Hidup jika itu menenangkan. Dengan mengakui kerapuhan ini, kita justru sedang membuka pintu bagi kekuatan yang lebih besar untuk masuk.

Musibah sebagai Sekolah Kerendahan Hati

Secara spiritual, musikbah bukan datang untuk menghancurkan harkat manusia, melainkan untuk meruntuhkan dinding kesombongan yang tanpa sadar kita bangun setiap hari. Dalam perspektif ini, ada dua hal besar yang sedang terjadi di batin kita:Seringkali, saat hidup berjalan lancar—bisnis sukses, kesehatan terjaga, dan rumah tangga tenang—kita merasa bahwa kitalah pemegang kendali penuh atas kehidupan. Kita merasa hebat karena usaha kita sendiri.

Banjir atau galodo datang untuk meruntuhkan ilusi tersebut. Dalam hitungan jam, alam menunjukkan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar di luar kendali manusia. Di hadapan terjangan udara, tidak ada bedanya rumah mewah atau rumah sederhana. Kesadaran ini adalah "obat" bagi penyakit kesombongan, membawa kita kembali pada posisi asli sebagai hamba yang fakir dan membutuhkan pertolongan.

Musibah memaksa kita untuk menanggalkan jubah gengsi. Saat seseorang yang biasanya memberi harus rela mengantre di dapur umum, atau seseorang yang biasanya dilayani kini harus berjibaku membersihkan lumpur bersama tetangga, di sanalah kerendahan hati tumbuh.

Kita belajar bahwa kita saling membutuhkan. Musibah mengikis sekat-sekat kelas sosial. Di tengah bencana, semua orang berdiri di tanah yang sama, merasakan dingin yang sama, dan menggantungkan harapan pada Tuhan yang sama. Inilah nikmat spiritual yang tak ternilai: kembalinya rasa persaudaraan yang murni tanpa embel-embel jabatan atau harta.

Musik sering kali menjadi "tombol reset" bagi niat kita. Hal-hal kecil yang dulu kita abaikan—seperti lantai rumah yang kering, air bersih untuk berwudhu, atau sekadar tidur nyenyak—kini terasa seperti kenikmatan yang luar biasa. Kita tidak lagi fokus pada apa yang “hilang”, tapi mulai menghargai apa yang “tersisa”. Kerendahan hati membuat kita mampu melihat kenikmatan dalam kecil-kecilnya yang diberikan.

Salah satu hal yang paling menguras energi saat tertimpa musibah bukanlah musibah itu sendiri, melainkan penolakan kita terhadap kenyataan . Pikiran seperti "Seharusnya ini tidak terjadi," atau "Kenapa harus rumah saya yang hancur?" adalah bentuk perlawanan batin yang melelahkan. Ketika kita terus-menerus menyesali masa lalu ( "Andai saya bangun tanggul lebih tinggi," atau "Andai saya pindah lebih awal" ), kita sebenarnya sedang menghabiskan bahan bakar mental untuk sesuatu yang tidak bisa diubah. Perlawanan ini seperti mencoba menahan banjir udara dengan tangan kosong—sia-sia dan hanya membuat kita tenggelam dalam keputusasaan.

 Penerimaan Bukanlah Kekalahan

        Banyak orang yang salah mengira bahwa menerima kenyataan berarti menyerah. Padahal, menerima adalah strategi . Menerima berarti mengakui: "Ya, banjir ini terjadi. Ya, saya kehilangan banyak hal." * Begitu kita berhenti menyangkal, beban emosional yang tadinya digunakan untuk "marah pada keadaan" tiba-tiba lepas. Energi yang tersisa itulah yang sekarang bisa kita gunakan untuk berpikir jernih. Ibarat seorang nakhoda di tengah badai, ia tidak akan membuang waktu dengan memaki ombak. Ia akan menggunakan seluruh tenaganya untuk memegang kemudi dan menutup kebocoran. Dengan menerima bahwa lumpur sudah masuk ke dalam rumah, energi Anda tidak lagi habis untuk merutapi lantai yang kotor, melainkan dialokasikan untuk mengambil cangkul dan mulai membersihkan. Ketika hati sudah tenang karena telah menerima ketetapan, mata kita akan lebih mudah melihat solusi. Mungkin ada bantuan yang bisa diakses, ada ide yang lebih aman dari banjir, atau ada hikmah yang bisa dijadikan peluang usaha baru.

Di Minangkabau, kita mengenal semangat "Dima bumi dipijak, di nan rantiang dipatah." Artinya, di mana pun kita berada—bahkan di tengah-tengah kumuh sekalipun—kita harus mampu menyesuaikan diri dan menentukan langkah hidup yang baru. (HT)

 

 

Seni Menikmati Hidup Tanpa Syarat: Belajar dari "La Tahzan"

 

"Sering merasa cemas dan lelah dengan beban hidup? Simak ringkasan buku La Tahzan ini untuk menemukan cara berdamai dengan masa lalu dan meraih kebahagiaan sejati melalui perspektif iman dan pikiran positif."

Seni Menemukan Kedamaian di Tengah Badai: Ringkasan Inspirasi Buku La Tahzan

Kehidupan sering kali terasa seperti rangkaian ujian yang tidak ada habisnya. Di satu titik, kita mungkin merasa terjepit oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam atau dicekik oleh kecemasan akan masa depan yang belum tentu terjadi. Buku "La Tahzan" karya Dr. 'Aidh al-Qarni hadir bukan sekadar sebagai deretan teks motivasi, melainkan sebagai oase di tengah gurun pasir kehidupan yang gersang. Melalui pesan utamanya, buku ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kesedihan yang berlarut-larut adalah pencuri waktu yang paling nyata. Al-Qarni menekankan pentingnya hidup dalam "batasan hari ini," di mana kita belajar untuk memutus rantai penyesalan atas hari kemarin dan berhenti mencemaskan esok hari, karena satu-satunya realitas yang kita miliki adalah detik yang sedang kita jalani sekarang.


Kekuatan utama dari pemikiran dalam buku ini terletak pada pergeseran perspektif. Penulis mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar diri—seperti kekayaan atau status sosial—melainkan dari dalam hati yang rida terhadap ketetapan Sang Pencipta. Kita diajak untuk melihat setiap musibah sebagai cara Tuhan untuk "mencuci" jiwa atau melatih kekuatan batin kita. Dengan memperkuat iman dan tawakal, beban hidup yang tadinya terasa menghimpit perlahan akan terasa lebih ringan. Iman di sini berfungsi sebagai jangkar; meski badai masalah datang menerjang, batin kita tetap kokoh karena percaya bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan.

Selain aspek spiritual, buku ini juga memberikan solusi psikologis yang sangat praktis untuk mengusir rasa sedih. Salah satunya adalah dengan menjaga kesibukan diri. Al-Qarni berargumen bahwa pikiran yang kosong adalah tempat favorit bagi kesedihan dan keraguan untuk tumbuh. Dengan bekerja, membaca, atau membantu sesama tanpa mengharapkan ucapan terima kasih, kita sebenarnya sedang menyembuhkan diri sendiri. Berbuat baik kepada orang lain adalah obat bagi luka hati kita sendiri. Pada akhirnya, "La Tahzan" adalah sebuah seruan untuk bangkit dan merayakan hidup. Ia mengajarkan kita bahwa meski dunia ini tidak sempurna, kita tetap memiliki hak untuk bahagia selama kita mampu menjaga hati untuk tetap bersyukur dan pikiran untuk tetap positif.

Bongkar Kelemahan Demi Kemenangan: PKS Kota Pariaman Hadirkan Pengamat Politik dalam Raker 5 Tahun



    PARIAMAN – Berbeda dari biasanya, Rapat Kerja (Raker) DPTD PKS Kota Pariaman yang digelar Minggu (11/1) berlangsung penuh kejutan. Alih-alih hanya berisi agenda internal, partai berlambang padi dan bulan sabit ini justru sengaja "menelanjangi" diri dengan mengundang pakar luar untuk mengkritik performa mereka. Kehadiran Dr. Herry Effendi, praktisi pendidikan sekaligus pengamat politik, menjadi magnet utama dalam Raker ini. Di hadapan seluruh pengurus dan kader, Dr. Herry memberikan bedah kritis mengenai posisi PKS di mata masyarakat Pariaman. Beliau memaparkan beberapa poin krusial yang harus segera diperbaiki. Dr. Herry menyoroti celah komunikasi politik yang perlu diperbaiki agar pesan partai lebih mudah diterima oleh kalangan milenial dan Gen Z di Pariaman. Ia mengusulkan agar PKS tidak hanya dikenal sebagai partai dakwah, tetapi juga memperkuat posisi sebagai pionir solusi pendidikan dan ekonomi kreatif. Perlunya pendekatan yang lebih cair dan membaur dengan tradisi lokal tanpa menghilangkan jati diri partai.

    Ketua DPTD PKS Kota Pariaman terpilih, M. Yasin, S.Tp, menyambut baik kritik tajam tersebut. Anggota DPRD Sumbar ini menegaskan bahwa untuk menang di lima tahun ke depan, PKS tidak boleh antikritik.

"Kami mengundang Dr. Herry Effendi justru karena kami ingin tahu di mana letak kekurangan kami. Kita butuh perspektif objektif agar program kerja lima tahun ke depan bukan sekadar rutinitas, tapi benar-benar menjadi terobosan bagi warga Pariaman," ujar M. Yasin dengan tegas.

    Raker yang dibuka oleh Sekretaris MPW PKS Sumbar, H. Gustami Hidayat, S.Pt, MP, ini juga dihadiri oleh Muhajir Muslim, Lc (Ketua DPED Pariaman). Kehadiran para tokoh ini menunjukkan keseriusan PKS dalam menyelaraskan visi dari tingkat wilayah hingga ke tingkat daerah di Pariaman.

Dengan masukan dari akademisi dan sinergi para tokoh senior, PKS Kota Pariaman kini resmi memulai "maraton" politiknya dengan strategi yang lebih segar, terbuka, dan terukur. (HT)

Jaga Lumbung Pangan Sumbar: Muhamad Yasin Gencarkan Perda Perlindungan Lahan di Pariaman


    PARIAMAN, 25 Oktober 2025 – Upaya serius Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menjamin ketahanan pangan mendapat dukungan penuh dari legislatif. Anggota DPRD Provinsi Sumbar, Muhamad Yasin, S.TP, sukses menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) di Aula Rumah Makan Joyo Makmur Kota Pariaman.

        Dihadiri lebih dari 250 peserta, termasuk tokoh masyarakat, kelompok tani, dan Gapoktan dari Kota Pariaman dan Padang Pariaman, kegiatan dua sesi ini bertujuan membumikan payung hukum yang krusial bagi masa depan pertanian Sumbar.

        Muhamad Yasin dalam sambutannya menegaskan bahwa Perda ini lahir dari kekhawatiran akan berkurangnya lahan pertanian produktif akibat laju pembangunan. Ia menekankan bahwa tujuan utama Perda adalah menjamin ketahanan pangan yang berkesinambungan agar Sumbar tidak kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

    "Kita tidak ingin di daerah kita suatu saat nanti tidak lagi bisa swasembada pangan. Perda ini disusun agar dengan tetap terjaganya jumlah lahan pertanian pangan, Insya Allah swasembada pangan Sumatera Barat bisa dilestarikan," tegas Yasin.   

     Acara semakin komprehensif dengan kehadiran narasumber ahli, Syoprinaldi Nasridal Putra, S.P. (Kepala Balai Alsintan, Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar). Syoprinaldi menjelaskan bingkai hukum Perda tersebut, di mana substansi utamanya mencakup:

        Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B): Kewajiban Pemda menetapkan area spesifik yang tidak boleh dialihfungsikan dan harus dilindungi
        Pengendalian Ketat: Adanya larangan tegas dan sanksi bagi perorangan maupun korporasi yang melakukan alih fungsi lahan LP2B secara ilegal
        Insentif bagi Petani: Pemerintah memberikan dukungan berupa keringanan pajak, prioritas pembangunan infrastruktur irigasi, dan kemudahan akses pembiayaan sebagai kompensasi bagi petani yang berkomitmen menjaga lahan mereka.


Respon Peserta: Dukungan untuk Masa Depan Pangan

Sosialisasi ini disambut baik oleh peserta. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui secara detail tentang Perda ini dan menyatakan apresiasi positif.

"Kami sekarang tahu bahwa pemerintah berusaha keras melindungi areal pertanian pangan agar tidak tergeser pembangunan. Adanya Perda ini memberikan kami kepastian hukum dan motivasi untuk tetap mengelola sawah," ujar salah satu perwakilan kelompok tani.

Dengan adanya Perda ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan petani dapat semakin kuat, memastikan lahan pertanian pangan di Kota Pariaman dan Padang Pariaman tetap lestari demi keberlanjutan swasembada pangan Sumatera Barat. (Djoe)

Aksi Nyata Kader PKS: Muhamad Yasin Guyurkan 15 Mesin Tempel Baru untuk 13 Kelompok Nelayan Pariaman

 





PARIAMAN — Tak hanya berjanji, Anggota DPRD Sumatera Barat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhamad Yasin, STp, langsung tancap gas merealisasikan komitmennya untuk nelayan. Tepat pada 30 September 2025, Yasin menyerahkan total 15 unit mesin tempel—senilai miliaran rupiah—kepada 13 kelompok nelayan dari Kota dan Kabupaten Padang Pariaman.

Bantuan yang diserahkan di Aula Serba G


una Desa Pasir Sunur ini bersumber dari Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) tahun 2025. Rinciannya, 8 kelompok nelayan mendapat jatah 6 unit mesin tempel 40 PK, sementara 5 kelompok lainnya menerima 9 unit mesin tempel 15 PK. Bantuan ini diharapkan mampu mendongkrak hasil tangkapan dan memperpendek waktu melaut.

Dalam sambutannya, Yasin menegaskan bahwa aksinya ini adalah bukti nyata PKS senantiasa bersama rakyat.

"Ini adalah bentuk komitmen saya dan PKS untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Baru dilantik 27 Agustus 2025, kami langsung bergerak cepat di akhir tahun itu juga mengalokasikan program strategis untuk nelayan, petani, UMKM, hingga infrastruktur. Ini janji dan komitmen kami untuk menyejahterakan masyarakat di dapil," tegas Yasin.

Kepada para penerima manfaat, Yasin berpesan dengan nada santai namun tegas. "Saya tak mau dengar mesin ini dijual! Gunakan sebaik-baiknya untuk melaut. Insya Allah, tahun depan kami akan sisir lagi dan mengalokasikan bantuan serupa bagi nelayan yang belum terjangkau."

Acara yang dipenuhi antusiasme ini turut dihadiri oleh Kabid Perikanan Tangkap DKP Provinsi Sumbar serta Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan dari Kota dan Kabupaten Padang Pariaman.


Milenial Pariaman Titipkan Harapa pada Mahyeldi Vasko

PKS PARIAMAN (17/10)  “Kami akan terus memperjuangkan terbukanya lapangan-lapangan kerja, baik melalui kerjasama dengan instansi maupun mendorong tumbuhnya wirausaha-wirausaha baru di Sumbar,” ujar Mahyeldi ketika bertatap muka dan diskusi dengan atusan Milenial dari Jawi-Jawi di seba kafe di Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman Kamis (17/10/2024) malam.  Mereka menilai Mahyeldi layak melanjutkan periode kedua kepemimpinannya.

salah seoranng pemuda Irvann menngatakan “Kami, milenial Pariaman, terkhusus yang ada di daerah Jawi-Jawi, sepakat mendukung Mahyeldi-Vasko demi keberlanjutan pembangunan di Sumatera Barat,” 

dalamm diskusi ini para milenial ini  berharap Mahyeldi-Vasko dapat melanjutkan program-program pembangunan yang telah berjalan, terutama dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga dapatkan mencarikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi oleh generasi muda Sumbar dalam mencari lapangan pekerjaan m nantinya. 

    Mahyeldi mengatakan, pihaknya akan terus berupaya menciptakan lapangan pekerjaan baru dengann menjalin kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta untuk memperluas peluang kerja bagi lulusan muda. disamping itu Buya juga menngajak para milenial ini untuk terus menggali dan melakukan  inovasi dan keterampilan baru dalam era modern ini, agar generasi muda Sumbar dapat bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif. “Generasi muda harus siap bersaing dan terus mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini,” katanya.

 Juru Bicara (Jubir) Mahyeldi-Vasko, Dolla Indra mengajak generasi muda, terutama Milenial Sumbar untuk realistis dalam memilih pemimpin kedepan.

“Generasi muda, milenial hingga Gen Z haruslah realistis dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. Dipastikan mampu mengakomodir kebutuhan dari generasi muda kedepan,” katanya saat melanjutkan pertemuan tersebut.

Dia juga mengajak agar dimasa kampanye ini dilakukan dengan santun, dan mengutamakan penyampaian gagasan.

Warga Antusias menyambut kehadiran Bapak Genius umar dan M. Ridwan

 




pariamann (5/10), Pukul 16.30 WIB. Setelah menyapa masyarakat Cubadak Mentawai, Genius-Ridwan lanjut  Menyapa Masyarakat Kajai Kec.Pariaman Timur Pukul 16.30 WIB. Kampanye ini dihadiri oleh Bapak Romi Rusli sebagai ketua PKS sekaligus pemenenangan Mahyeldi-Vasco calon gubernur dan wakil gubernur Sumbar dan  Ibu Mimi sebagai ketua BPKK PKS Kota Pariaman. Kampanye  dikawal oleh Polisi dan KPU. Meskipun diguyur hujan tidak menurunkan semangat masyatakat Kajai berdiskusi dan bersilaturahmi dengan bapak Ridwan.   2 orang yang paling semangat selama kegiatan  diberi doorprize oleh panitia dan diakhir acara pembagian kalender genius-ridwan.Genius-Ridwan bertemu masyarakat dan bersilaturahmi di Kajai, Kec. Pariaman Timur. kehadiran  Bapak Gennius Umar dan M. Ridwan disambut antusias warga.