BRUTUS DALAM POLITIK )

oleh Boy Hadi Kurniawan
Direktur Consist (Center for Education Training and Strategic studies
Belakangan nama BRUTUS menjadi populer dalam jagat politik Indonesia. Ini diawali oleh statement M Qodari dalam sebuah podcast yg menyatakan Golkar bisa menjadi brutus dalam koalisi Indonesia maju atau kabinet Prabowo Gibran. Hal ini langsung dijawab oleh salah seorang Ketua DPLN AMPI, ormas pemuda yg menjadi underbouw Golkar agar Qodari tidak sembarangan mengeluarkan statement. AMPI merasa tersinggung atas pernyataan yg tidak berdasar tersebut katanya. 

Siapakah sebenarnya brutus itu? Apa yg dimaksud brutus dalam politik?. Brutus adalah seorang Senator dari Romawi yg memiliki nama lengkap Marcus Junius Brutus. Dia adalah seorang filsuf, penyair dan juga politisi yg hidup dizaman Julius Caesar. Kenapa nama Brutus ini terkesan negatif? Karena dia adalah pemimpin konspirator untuk membunuh Julius Caesar. 

Brutus adalah simbol pengkhianatan. Dia diangkat oleh Julius Caesar sebagai Gubernur di Gallia (wilayah Italia, Belanda, Swiss, Belanda dan Perancis hari ini) dan Praetor atau juga disebut Hakim/Utusan Raja yg mengurus masalah masalah khusus. 

Brutus diangkat sebagai Gubernur Gallia pada tahun pada tahun 46 SM menjadi Praetor tahun 45 SM, 1 tahun setelahnya tahun 44 SM dia melakukan konspirasi membunuh Julius Caesar dan beberapa Senator lainnya. Setelah itu dia melarikan diri ke Athena. 

Pada tahun 42 SM dia berencana pula untuk merebut Roma dalam perang philippus tetapi ternyata gagal, dan akhirnya Brutus mengakhiri hidupnya dengan Bunuh diri. Brutus kalah melawan Mark Anthony dan Octavian yg menuntut balas kematian Julius Caesar. 

Pelajaran yg dapat kita ambil dari kisah Brutus ini, adalah : pertama, pengkhianatan dan kelicikan akan berbuah kehancuran dan kegagalan. Brutus telah diberikan kepercayaan dan kekuasaan oleh Julius Caesar tapi kemudian mengkhianati nya karena menginginkan kekuasaan Julius Caesar. Jika kita kaitkan dgn Brutus dalam dunia politik hari ini. Maka pengkhianatan kepada orang yg mempercayai dan memberikan amanah akan berbuah kegagalan. Cepat ataupun lambat. 

Kedua, Sejarah akan selalu terulang. Fenomena Brutus dalam politik ini akan selalu ada dalam setiap masa. Pengkhianat itu sering muncul dari orang terdekat. Sikap ini muncul karena haus akan kekuasaan. Ibarat pepatah Minang "Menggunting dalam lipatan menuhuk kawan seiring" akan selalu ada dalam setiap masa. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah juga diwarnai oleh fenomena Brutus-brutus ini. 

Dalam sejarah islam Brutus ini juga ada yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul yg juga berkhianat pada Rasulullah SAW pada perang Uhud. Abdullah bin Ubay juga berakhir dengan kegagalan dan kehancuran nya. 

Jika ada yg berperilaku seperti ini maka tidak selayaknya kita jadikan contoh teladan. Brutus ini berbahaya bagi bangsa, karena dia juga menjadi penyebab runtuhnya Republik Romawi karena perang saudara. Romawi mengalami kehancuran karena konflik internal perebutan kekuasaan diantara mereka. Semoga bangsa ini terhindar dari prilaku politisi Brutus ini, yg berkhianat kepada bangsa Indonesia salah satunya dengan prilaku korupsi yg hari ini semakin menggila dan merajalela. Wallahu alam bishshawab.

Tidak ada komentar: