Surat Cinta yang Terbungkus Luka

 

"Jika dengan ujian ini engkau menjadi lebih dekat dengan-Nya, maka sesungguhnya itu bukanlah musibah, melainkan nikmat yang menyamar."


        

Ketika Bumi Bergetar, Langit Sedang Berbicara

    Sore itu, menjelang Magrib di Lubuk Alung, alam seolah memberi isyarat yang tak biasa. Kabut yang turun tiba-tiba bukan sekadar fenomena cuaca; ia adalah tirai yang menutup kesombongan dunia, mengubah hari yang terang menjadi kelam dalam sekejap mata. Di tengah guncangan hebat yang merubuhkan sendi-sendi beton, kita disadarkan betapa rapuhnya apa yang selama ini kita sebut sebagai "rumah".

    Perjalanan Saya menuju Kabun Sunur kampung alaman saya di kecamatan nansabaris sore itu adalah miniatur perjalanan hidup manusia. Kita sering merasa sedang menuju "pulang" dengan tenang, namun Allah memberikan "interupsi suci" di tengah jalan. Debu dari bangunan yang runtuh dan jerit ketakutan adalah cara-Nya mengingatkan bahwa tak ada tempat berlari yang benar-benar aman selain kembali kepada-Nya.

    Saat Saya mendapati rumah orang tua tak lagi berbentuk, ada sebuah keajaiban di balik puing: keselamatan nyawa. Tidur beratapkan dan beralaskan terpal selama berbulan-bulan adalah masa tarbiyah (pendidikan) yang paling murni. Allah sedang mencabut seluruh kemewahan fisik agar kita bisa merasakan kemewahan yang sebenarnya: kedekatan kepada-Nya tanpa sekat dinding rumah. Di bawah terpal itu, doa-doa kita mungkin jauh lebih khusyuk daripada saat berada di dalam kamar yang nyaman.

         Satu tahun kemudian, ketika Abak (Ayah) berpulang di hunian sementara, disusul oleh kakak tertua, ujian itu terasa bertumpuk. Namun, inilah yang disebut dalam narasi di atas sebagai "Surat Cinta yang Terbungkus Luka". Allah mengambil orang-orang tercinta saat mereka—dan kita—mungkin sedang dalam kondisi paling dekat dengan-Nya pasca musibah.

        Kepergian Abak dan Kakak adalah pengingat terakhir bahwa dunia ini memang "hunian sementara" dalam arti yang sesungguhnya. Mereka pergi saat rumah di dunia belum kembali tegak, seolah memberi pesan:

 jangan terlalu sibuk membangun istana di sini, karena tempat pulang kita yang abadi bukanlah beton dan semen

 

    Gempa 2009 bagi saya bukan sekadar catatan sejarah kelam Sumbar, melainkan sebuah "Cahaya Teguran". Allah mengingatkan saya dengan musibah, meruntuhkan rumah fisik saya agar Dia bisa membangun kembali "rumah iman" di dalam dada.

        Bersyukurlah, karena lewat peristiwa itu, saya dipaksa melihat bahwa nyawa orang tua adalah nikmat yang tak tertandingi oleh bangunan manapun. Dan lewat kepergian Abak serta Kakak, Allah sedang mengajarkan tentang keikhlasan yang paripurna. Mereka telah "pulang" lebih dulu, meninggalkan pesan bagi kami  yang masih di perjalanan: Persiapkan perbekalan, karena bumi bisa bergetar kapan saja.


"Jika musibah itu membuatmu kini lebih sering menyebut nama-Nya, maka sesungguhnya terpal yang bocor itu lebih mulia daripada atap istana yang membuatmu lupa kepada-Nya."
    Berapa kali kita merasa dunia seolah runtuh saat sebuah rencana tak berjalan semestinya? Berapa banyak energi yang kita habiskan untuk merutuk, saat sakit tak kunjung sembuh atau saat kehilangan menyapa tanpa permisi? Kita seringkali memandang musibah sebagai "tamu tak diundang" yang datang untuk merusak kebahagiaan. Padahal, 

"bagi seorang hamba yang memiliki kejernihan mata hati, musibah tak lain adalah sebuah "interupsi suci."

        Bayangkan jika kita sedang berjalan menuju jurang yang dalam, lalu seseorang melemparkan batu kecil hingga mengenai kening kita. Tentu kening itu terasa sakit. Namun, bukankah rasa sakit itulah yang membuat kita berhenti melangkah dan menyadari bahwa di depan sana ada maut yang mengintai?

        Begitulah hakikat musibah dalam bingkai tarbiyah (pendidikan) Ilahi. Bersyukurlah saat Allah masih sudi "melemparkan batu kecil" berupa teguran dalam hidup kita. Itu tandanya, Allah tidak membiarkan kita tersesat terlalu jauh dalam kelalaian (ghoflah). Yang paling mengerikan dalam hidup ini bukanlah kegagalan atau kesedihan, melainkan istidraj—ketika Allah membiarkan hamba-Nya terus bermaksiat namun tetap dilimpahi kesenangan duniawi hingga ia lupa jalan pulang.

    Seorang mukmin memandang musibah bukan dengan kacamata materi, melainkan kacamata keimanan. Dalam setiap rintihan sakit, ada dosa yang luruh layaknya daun-daun kering di musim gugur. Dalam setiap sesak dada karena kehilangan, ada ruang yang dikosongkan agar bisa diisi dengan kecintaan yang lebih besar kepada Sang Khaliq.

       Musibah adalah cara Allah memaksa kita untuk "istirahat" sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang melelahkan. Ia memaksa kita untuk kembali bersimpuh di atas sajadah, tempat di mana kita mengakui betapa kecilnya diri ini. Tanpa guncangan, barangkali kita akan selamanya merasa sombong dengan kekuatan yang sebenarnya semu.

        Maka, tak perlu lagi kita bertanya, "Mengapa ini menimpaku?" Pertanyaan semacam itu hanya akan melahirkan benih-benih protes kepada takdir. Gantilah dengan pertanyaan yang lebih bermakna: 

"Pesan apa yang ingin Kau sampaikan padaku, wahai Rabb?"

        Saat kita mulai belajar bersyukur atas musibah, saat itulah kita telah mencapai level kedewasaan iman. Kita mensyukuri peringatan itu karena kita sadar bahwa Allah masih merindukan rintihan doa kita di sepertiga malam. Allah ingin kita kembali, Allah ingin kita bersih, dan Allah ingin kita naik kelas.

***

        Wahai diri yang sedang diuji, janganlah berputus asa. Dekaplah ujian itu dengan rasa syukur. Sebab, musibah yang membawamu kembali kepada Allah jauh lebih baik daripada nikmat yang membuatmu jauh dari-Nya. Biarkan air mata itu menjadi saksi bahwa di balik kepedihan, ada cinta Allah yang tak bertepi.

***

(HT)

Tidak ada komentar: