Ada sebuah tamu yang tak pernah mengirim pesan sebelum tiba. Ia tak mengenal protokol, tak peduli pada pangkat, dan tak sanggup ditawar meski hanya sekejap mata. Dialah kematian; satu-satunya kepastian yang sering kali kita perlakukan layaknya sebuah kemungkinan yang masih jauh di ufuk sana.
Kita kerap terjebak dalam hiruk-pikuk rencana yang panjang. Membangun istana di atas pasir, sementara ombak takdir telah bersiap menyapunya. Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam kalam-Nya yang abadi:
سٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
— (QS. Ali 'Imran: 185)
Jeda di Tengah Perlarian
Sering kali, kita berlari mengejar dunia seolah-olah kita adalah pemilik keabadian. Kita menumpuk harta, mengejar citra, dan memoles rupa, hingga lupa bahwa tubuh yang kita manjakan ini suatu saat akan menjadi hidangan bagi tanah. Malaikat Izrail tidak membutuhkan izin untuk mengetuk pintu rumah kita. Ia datang menjalankan amanah dari Sang Pemilik Nyawa.
Kematian adalah hakikat yang sunyi. Ia tidak mengenal usia muda yang penuh mimpi, atau usia senja yang merapuh. Ia bisa datang di tengah tawa, atau menjemput di sela-sela sujud yang belum sempurna.
“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu…” (QS. As-Sajdah: 11)
Nasihat Tanpa Suara
Di dunia yang penuh dengan kebisingan kata-kata, kematian hadir sebagai nasihat yang paling jujur tanpa perlu bersuara. Ia berbicara lewat keheningan kain kafan dan kesunyian liang lahat. Ia mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, kita akan pulang ke rumah yang sesungguhnya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Kita berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nya muara seluruh perjalanan ini akan berakhir. Tak ada harta yang ikut masuk ke liang sempit itu, kecuali selembar kain putih dan amal yang barangkali masih compang-camping kita kumpulkan.
Jebakan "Nanti"
Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian itu sendiri, melainkan apa yang mati di dalam diri kita saat kita masih hidup: yaitu kepekaan ruhani. Kita sering terlena oleh fatamorgana kehidupan, merasa bahwa hari esok masih menjadi milik kita. Kita menunda taubat dengan kata "nanti", seolah-olah kita telah memegang kontrak umur dengan Tuhan.
Allah mengingatkan dengan nada yang menggetarkan:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Siapakah di antara kita yang bisa menjamin bahwa napas yang kita hirup saat ini bukanlah embusan terakhir? Tak ada seorang pun yang tahu di bumi mana ia akan merebahkan jasadnya untuk selamanya.
Memanen Makna dalam Kenangan
Mengingat kematian bukanlah cara untuk mematikan semangat hidup. Justru, ia adalah cara untuk menghidupkan makna di setiap detik yang tersisa. Orang yang cerdas adalah ia yang paling banyak mengingat pemutus kelezatan dunia ini, bukan untuk meratapi akhir, tapi untuk mempersiapkan bekal.
Kematian menuntun kita untuk lebih bijak meletakkan prioritas. Membuat kita lebih ringan memaafkan, lebih tulus memberi, dan lebih khusyuk dalam menghamba. Karena setiap diri harus memperhatikan apa yang telah ia kirimkan untuk "hari esok"-nya yang abadi.
Pulang dengan Tenang
Maka, mari sejenak menepi dari riuh rendah dunia. Tataplah cermin hati kita: Jika hari ini adalah senja terakhir bagi kita, sudahkah kita membawa cukup bekal? Atau kita masih sibuk mengumpulkan pernak-pernik yang akan kita tinggalkan begitu saja?
Harapan kita hanya satu, agar saat waktu itu tiba, kita termasuk jiwa-jiwa yang dipanggil dengan penuh cinta:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya…” (QS. Al-Fajr: 27–28)
Kematian hanyalah sebuah jembatan. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghias jembatan itu, hingga lupa bahwa tujuan kita adalah seberang sana—keabadian yang sesungguhnya. Karena dunia ini tak lebih dari sekadar kesenangan yang menipu, dan hanya kepada-Nya kita akan benar-benar pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar