Memeluk Badai, Merawat Persaudaraan

 



    Ada sebuah masa di mana langit seolah kehilangan warna birunya, menyisakan keabu-abuan yang menggantung rendah di cakrawala. Di bawahnya, kita berdiri terpaku—merasakan detak jantung yang berpacu dengan sunyi, sementara bumi di bawah kaki seakan ragu untuk terus berpijak pada porosnya. Kita semua pernah berada di titik itu; sebuah persimpangan sunyi di mana kenangan masa lalu dan ketidakpastian hari esok saling berkejaran, menyisakan debu-debu halus yang menyesakkan dada namun tak kasat mata. Namun, bukankah kita sering lupa bahwa justru dalam keremangan itu, mata kita belajar melihat cahaya yang paling redup sekalipun? Bahwa senja tak pernah benar-benar pergi tanpa meninggalkan janji tentang fajar yang akan menjemput?"

Di tengah kemelut perasaan itu, kita sering kali lupa bahwa setiap goresan luka dalam hidup bukanlah bentuk pengabaian dari Sang Pencipta, melainkan sebuah undangan untuk kembali pulang. Ujian, dalam segala bentuknya, adalah cara semesta memurnikan niat dan memperkuat akar keyakinan kita. Sebagaimana mutiara yang hanya lahir dari gesekan pasir di dalam kerang yang tertutup, jiwa manusia pun sering kali baru menemukan kilaunya setelah ditempa oleh kerasnya cobaan.

Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW yang mengingatkan kita bahwa besarnya pahala selalu berbanding lurus dengan besarnya ujian yang menimpa. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka..." (HR. Tirmidzi no. 2396, disahihkan oleh Al-Albani).

Menanggapi hal ini, Syekh Ibnu Atha'illah al-Iskandari dalam kitab legendarisnya, Al-Hikam, memberikan sebuah perspektif yang sangat meneduhkan hati bagi siapa saja yang sedang merasa sesak:

"Tatkala Allah memberikan ujian kepadamu, ketahuilah bahwa Dia sebenarnya ingin memberikan karunia kepadamu. Ujian itu sendiri merupakan salah satu bentuk karunia-Nya yang dikirim dalam bentuk kesulitan." (Sumber: Kitab Al-Hikam, Pasal 101).

    Dengan memandang ujian melalui kacamata ini, setiap rasa lelah tak lagi sekadar menjadi beban, melainkan menjadi anak tangga menuju derajat kedewasaan spiritual yang lebih tinggi. Jika kita merasa beban hari ini begitu menghimpit, tengoklah sejenak lembaran sejarah tentang bagaimana para orang saleh memandang penderitaan. Ambillah pelajaran dari kisah Urwah bin Zubair, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in. Dalam sebuah perjalanan, beliau diuji dengan penyakit yang mengharuskan kakinya diamputasi, dan di saat yang hampir bersamaan, putra tercintanya wafat. Namun, alih-alih meratap, Urwah justru berucap dengan tenang:

 "Ya Allah, jika Engkau mengambil satu bagian tubuhku, Engkau masih menyisakan bagian yang lain. Jika Engkau mengambil satu putraku, Engkau masih menyisakan putra-putraku yang lain." (Sumber: Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam adz-Dzahabi).

    


        Ketabahan luar biasa ini lahir karena beliau tidak fokus pada apa yang hilang, melainkan pada apa yang masih tersisa. Hikmah mendalam dari kisah ini adalah bahwa ujian merupakan alat pemilah; ia memisahkan antara mereka yang hanya mengenal Allah di saat lapang, dengan mereka yang tetap memuji-Nya meski dalam kesempitan yang paling menyesakkan. Kesadaran inilah yang kemudian menuntun kita pada sebuah pemahaman baru: bahwa di setiap reruntuhan rencana manusia, sebenarnya Allah sedang membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan kita.

    Pemahaman akan hikmah inilah yang menjadi benang merah menuju langkah kita selanjutnya—tentang bagaimana cara kita mulai bangkit dan menata kembali kepingan harapan yang sempat tertunda.

    
        Keteguhan hati dalam menghadapi ujian pribadi ternyata memiliki akar yang sama dengan cara para ulama besar menyikapi ujian dalam ruang publik: yakni perbedaan pendapat dan pilihan politik. Bagi mereka, perbedaan bukanlah medan perang, melainkan ruang pembelajaran. Kita bisa bercermin pada hubungan antara Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Meskipun keduanya memiliki perbedaan tajam dalam beberapa hukum fikih yang berdampak pada arah kebijakan publik saat itu, Imam Syafi'i tetap berkata:
"Aku tidak meninggalkan Baghdad dengan seseorang yang lebih bertakwa dan lebih fakih daripada Ahmad bin Hanbal." (Sumber: Manaqib al-Imam Ahmad karya Ibnu al-Jauzi).

    Hikmah besar bagi kita hari ini adalah bahwa pilihan politik atau perbedaan ijtihad dalam membangun bangsa merupakan bagian dari "ujian kedewasaan" bernegara. Jika para ulama terdahulu bisa tetap saling mencintai di atas gunung perbedaan, mengapa kita harus saling meruntuhkan hanya karena beda pilihan? Kedewasaan politik bukanlah tentang bagaimana menyeragamkan pikiran, melainkan bagaimana kita tetap memiliki adab meski berada di barisan yang berbeda. Perbedaan pilihan politik, pada akhirnya, adalah ujian bagi hati kita: apakah kita lebih mencintai kemenangan kelompok kita, atau lebih mencintai keutuhan persaudaraan di atas segalanya.

    Dengan meletakkan adab di atas pilihan, kita sedang menjaga "rumah besar" ini agar tetap kokoh, meski di dalamnya kita menghuni kamar-kamar pemikiran yang tak serupa.

  

             
Sikap luhur para ulama dalam menjaga adab di tengah perbedaan inilah yang menjadi bukti nyata dari ketangguhan jiwa yang kita bicarakan sebelumnya. Ketika kita mampu menata hati untuk tetap menghargai mereka yang tak sejalan, di situlah kebaikan motivasi menemukan bentuknya yang paling murni. Ia bukan lagi sekadar kalimat penyemangat yang menghiasi dinding media sosial, melainkan sebuah tindakan nyata untuk tetap menebar kedamaian meski di tengah riuhnya silang pendapat.

    Sebab, pada akhirnya, kekuatan sejati kita bukan diuji saat keadaan sedang tenang dan semua orang sepakat dengan kita. Kekuatan itu diuji saat kita tetap mampu berjalan dengan kepala tegak dan hati yang lapang di tengah badai perbedaan, tanpa harus kehilangan jati diri maupun rasa persaudaraan. Inilah jalan panjang yang menuntut kita untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam setiap langkah kepulangan kita menuju hati yang tenang.

    Akhirnya, kita menyadari bahwa hidup adalah rangkaian pelajaran yang tak putus—mulai dari ujian pribadi yang menguras air mata, hingga ujian kedewasaan dalam menerima perbedaan di ruang publik. Kunci dari semua itu tetaplah satu: keteduhan hati. Sebagaimana para pendahulu kita telah mencontohkan, bahwa beban seberat apa pun akan terasa ringan jika kita memandangnya dengan kacamata syukur, dan perbedaan setajam apa pun akan terasa indah jika kita menyikapinya dengan kemuliaan adab.

Mari kita jadikan setiap tantangan sebagai sarana untuk memperhalus jiwa. Bahwa di balik setiap badai dan silang pendapat, selalu ada ruang untuk menanam benih kebaikan yang baru. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak kemenangan yang kita raih yang akan dikenang, melainkan seberapa besar kedamaian yang berhasil kita wariskan di hati orang-orang di sekitar kita. Di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya—sebuah kepulangan yang tenang menuju jati diri yang penuh kasih. (HT)


 

Kematian: Nasihat Paling Jujur di Ambang Waktu

     Ada sebuah tamu yang tak pernah mengirim pesan sebelum tiba. Ia tak mengenal protokol, tak peduli pada pangkat, dan tak sanggup ditawar meski hanya sekejap mata. Dialah kematian; satu-satunya kepastian yang sering kali kita perlakukan layaknya sebuah kemungkinan yang masih jauh di ufuk sana.

    Kita kerap terjebak dalam hiruk-pikuk rencana yang panjang. Membangun istana di atas pasir, sementara ombak takdir telah bersiap menyapunya. Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam kalam-Nya yang abadi:

سٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ
 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

         "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah                 diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan                     dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak              lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."

— (QS. Ali 'Imran: 185)

Jeda di Tengah Perlarian

    Sering kali, kita berlari mengejar dunia seolah-olah kita adalah pemilik keabadian. Kita menumpuk harta, mengejar citra, dan memoles rupa, hingga lupa bahwa tubuh yang kita manjakan ini suatu saat akan menjadi hidangan bagi tanah. Malaikat Izrail tidak membutuhkan izin untuk mengetuk pintu rumah kita. Ia datang menjalankan amanah dari Sang Pemilik Nyawa.

    Kematian adalah hakikat yang sunyi. Ia tidak mengenal usia muda yang penuh mimpi, atau usia senja yang merapuh. Ia bisa datang di tengah tawa, atau menjemput di sela-sela sujud yang belum sempurna.

“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu…” (QS. As-Sajdah: 11)

Nasihat Tanpa Suara

    Di dunia yang penuh dengan kebisingan kata-kata, kematian hadir sebagai nasihat yang paling jujur tanpa perlu bersuara. Ia berbicara lewat keheningan kain kafan dan kesunyian liang lahat. Ia mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, kita akan pulang ke rumah yang sesungguhnya.

    "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Kita berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nya muara seluruh perjalanan ini akan berakhir. Tak ada harta yang ikut masuk ke liang sempit itu, kecuali selembar kain putih dan amal yang barangkali masih compang-camping kita kumpulkan.

    Jebakan "Nanti"

    Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian itu sendiri, melainkan apa yang mati di dalam diri kita saat kita masih hidup: yaitu kepekaan ruhani. Kita sering terlena oleh fatamorgana kehidupan, merasa bahwa hari esok masih menjadi milik kita. Kita menunda taubat dengan kata "nanti", seolah-olah kita telah memegang kontrak umur dengan Tuhan.

    Allah mengingatkan dengan nada yang menggetarkan:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

    Siapakah di antara kita yang bisa menjamin bahwa napas yang kita hirup saat ini bukanlah embusan terakhir? Tak ada seorang pun yang tahu di bumi mana ia akan merebahkan jasadnya untuk selamanya.

Memanen Makna dalam Kenangan

    Mengingat kematian bukanlah cara untuk mematikan semangat hidup. Justru, ia adalah cara untuk menghidupkan makna di setiap detik yang tersisa. Orang yang cerdas adalah ia yang paling banyak mengingat pemutus kelezatan dunia ini, bukan untuk meratapi akhir, tapi untuk mempersiapkan bekal.

    Kematian menuntun kita untuk lebih bijak meletakkan prioritas. Membuat kita lebih ringan memaafkan, lebih tulus memberi, dan lebih khusyuk dalam menghamba. Karena setiap diri harus memperhatikan apa yang telah ia kirimkan untuk "hari esok"-nya yang abadi.

Pulang dengan Tenang

    Maka, mari sejenak menepi dari riuh rendah dunia. Tataplah cermin hati kita: Jika hari ini adalah senja terakhir bagi kita, sudahkah kita membawa cukup bekal? Atau kita masih sibuk mengumpulkan pernak-pernik yang akan kita tinggalkan begitu saja?

    Harapan kita hanya satu, agar saat waktu itu tiba, kita termasuk jiwa-jiwa yang dipanggil dengan penuh cinta:

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya…” (QS. Al-Fajr: 27–28)

    Kematian hanyalah sebuah jembatan. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghias jembatan itu, hingga lupa bahwa tujuan kita adalah seberang sana—keabadian yang sesungguhnya. Karena dunia ini tak lebih dari sekadar kesenangan yang menipu, dan hanya kepada-Nya kita akan benar-benar pulang.

Memaafkan orang lain sebelum orang lain memaafkan

Pariaman, 29 Maret 2026 DPTD PKS Kota Pariaman melakukan kegiatan Halal BI halal dengan tema Pendidikan politik dan konsolidasi dan halal bihalal. Ketua DPTD kota Pariaman MnYasin, S.Tp dalam sambutannya menyampaikan selamat lebaran mohon maaf lahir dan batin juga menyampaikan pesan untuk menjadikan momen Syawal di jadikan sebagai moment peningkatan amalan baik di bidang politik maupun dibidang sosial.  Kegitan ini di hadiri oleh seluruh pengurus MPD, Dan DPTD PKS kota Pariaman juga pengurus DPC, Depera serta kader dan simpatisan PKS kota Pariaman. kegiatan ini di isi oleh Ustadz Evan Johar, Lc. Yang menyampaikan pesan pesan religi diantaranya adalah saling memaafkan.  Semangat ini sesuai dengan  riwayat dimana Rasullullah dalam suatu majelis berbicara sebentar lagi akan datang seorang penduduk surga. Hal ini di sampaikan beberapa kali. Dan orang ternyata orang yang sama. Hingga seorang sahabat minta izin Abdullah bin Amr ingin mengetahui apa amalan lelaki ini. Sampai dinyatakan bahwa amalannya ternyata memafkan orang lain sebelum tidur. 
disamping itu juga ustd Evan menyampaikan tausiah untuk mengamalkan puasa enam hari dibulan Syawal yang pahalanya setara dengan puasa sepanjang tahun. Dan mengerjakan kebaikan kebaikan yang sudah dilakukan selama ramadhan dipertahankan  (HT)

MENAKAR ESENSI BALIMAU: SAAT TRADISI BERADU DENGAN MODERNISASI.

 

Secara harfiah, Balimau berasal dari kata "limau" yang berarti jeruk nipis. Dalam konteks budaya Minangkabau, Balimau adalah tradisi mandi keramas secara simbolis menggunakan air yang dicampur dengan perasan jeruk nipis serta berbagai ramuan alami lainnya. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah di Sumatera Barat tepat satu atau dua hari menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. Ritual ini bukan sekadar mandi biasa, melainkan simbol dari penyucian lahir dan batin. Masyarakat meyakini bahwa sebelum menghadap Sang Pencipta dalam ibadah puasa, seseorang harus berada dalam kondisi yang paling bersih. Biasanya dilakukan pada sore hari sebelum malam tarawih pertama dimulai. Filosofi Balimau berakar pada perpaduan antara kearifan lokal (budaya) dan nilai-nilai Islam yang dianut masyarakat Minangkabau (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).

Akar Sejarah: Kebersihan di Masa Lampau

Jauh sebelum sabun dan sampo komersial masuk ke pedalaman Minangkabau, masyarakat menggunakan bahan-bahan dari alam. Jeruk nipis (limau) dipilih karena sifat asamnya yang mampu meluruhkan keringat, minyak, dan bau badan secara efektif. Masyarakat Minang yang lekat dengan sungai (batang air) menjadikan kegiatan mandi bersama di sungai sebagai cara yang paling praktis untuk membersihkan diri secara massal sebelum hari raya atau bulan suci. Menghilangkan kotoran fisik dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hal ini merujuk pada kesiapan tubuh untuk melaksanakan ibadah puasa yang menuntut ketahanan fisik dan kebersihan. Penggunaan limau dan wewangian (bunga-bungaan) melambangkan niat untuk "mengharumkan" jiwa. Ada kepercayaan bahwa saat badan bersih dan wangi, pikiran akan menjadi lebih tenang dan fokus untuk beribadah (khusyuk).

Kaitan dengan Syariat Islam

Thaharah (Bersuci): Masyarakat Minang memaknai Balimau sebagai bentuk pengamalan perintah agama untuk bersuci. Meski secara syariat mandi wajib atau mandi sunnah cukup dengan air mutlak, penambahan limau dianggap sebagai bentuk kesungguhan (ihsan) dalam menyambut tamu agung, yaitu bulan Ramadhan. Menghubungkan Balimau dengan ajaran Islam di Minangkabau adalah bagian yang paling krusial sekaligus sensitif, mengingat falsafah hidup orang Minang adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah/Al-Qur'an).

 Konteks Balimau dalam Ajaran Islam

Dalam perspektif Islam, tradisi Balimau dapat dilihat dari dua sisi: sebagai bentuk ketaatan terhadap kebersihan, namun juga sebagai tradisi yang harus dijaga agar tetap sesuai dengan koridor syariat. Yaiu  Manifestasi dari Thaharah (Bersuci) Kewajiban Menjaga Kebersihan dimana  Islam sangat menekankan kebersihan (An-nazhafatu minal iman). Balimau dipandang sebagai ekspresi nyata masyarakat Minang untuk mengamalkan perintah bersuci sebelum melaksanakan ibadah besar (Puasa Ramadhan). Dalam fiqh, terdapat anjuran mandi sunnah pada malam Ramadhan atau sebelum shalat Id. Masyarakat Minang mengontekstualisasikan anjuran ini melalui ritual Balimau untuk memastikan diri benar-benar bersih (suci) saat memulai tarawih pertama.

Menyambut "Tamu Agung": Dalam tradisi Islam, Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Balimau dianggap sebagai bentuk penghormatan (takzim) kepada bulan Ramadhan. Sebagaimana seseorang mandi dan berpakaian rapi saat akan bertemu tokoh penting, begitu pula cara orang Minang bersolek secara lahiriah untuk menyambut bulan suci. Meskipun menggunakan media air dan limau, esensi Islam yang diambil adalah pembersihan.  Hal ini sering dibarengi dengan tradisi Malamang atau makan bersama untuk saling memaafkan, guna melunturkan dosa antar sesama manusia (Hablum Minannas). Adat istiadat yang tidak bertentangan dengan dalil agama dapat diterima sebagai bagian dari praktik sosial. Selama Balimau niatnya adalah untuk kebersihan (bukan ritual syirik) dan cara pelaksanaannya menutup aurat, maka tradisi ini dipandang sebagai kearifan lokal yang memperkuat syiar agama. ulama di Minangkabau sering memberikan pengingat agar Balimau tidak menyimpang: Larangan Ikhtilat: Islam melarang campur baur pria dan wanita yang bukan mahram di tempat pemandian umum (sungai). Menghindari Mubazir: Jangan sampai kegiatan Balimau menjadi ajang hura-hura yang justru melalaikan waktu shalat atau persiapan ibadah yang lebih inti. Niat yang Lurus: Menekankan bahwa yang memberikan kesucian bukan air limau itu sendiri, melainkan niat tulus untuk bertaubat kepada Allah SWT.

  1.  Pergeseran Lokasi: Dari Sakral ke Komersial

    Dahulu (Batang Air Desa): Balimau dilakukan di sungai-sungai kecil atau pancuran di dekat pemukiman. Suasananya lebih intim, hanya melibatkan keluarga atau tetangga satu nagari. Fokusnya adalah kebersihan dan doa sebelum pulang ke rumah untuk persiapan tarawih. Sekarang (Destinasi Wisata): Lokasi Balimau bergeser ke objek wisata air, kolam renang modern, atau tepian sungai yang dikelola secara komersial. Dampaknya. Balimau tidak lagi menjadi ritual pribadi/keluarga yang tenang, melainkan menjadi peristiwa "mandi massal" yang hiruk-pikuk. Komersialisasi; Munculnya tarif masuk, parkir, dan pedagang asongan mengubah tradisi ini menjadi penggerak ekonomi musiman bagi pengelola wisata.

  • 2. Perubahan Makna: Dari Ritual ke Rekreasi

Fenomena Libur Balimau: Bagi generasi muda, Balimau sering kali dianggap sebagai "hari libur" untuk tamasya. Esensi mandi menggunakan limau dan akar-akaran sering kali ditinggalkan, diganti dengan sekadar berenang atau bermain air biasa. Ajang Berfoto (Instagramable): Fokus peserta Balimau kini sering terbagi dengan keinginan untuk mengabadikan momen di media sosial, sehingga nilai kontemplasi (merenung dan bersiap diri) menjadi luntur.

Bercampurnya Pria dan Wanita

Di tempat wisata umum, sulit untuk memisahkan area mandi pria dan wanita. Hal ini menjadi kritik tajam dari para ulama dan tokoh adat karena bertentangan dengan prinsip Adat Basandi Syarak. Membludaknya pengunjung di satu titik lokasi sering kali menimbulkan masalah baru seperti kemacetan parah, sampah yang menumpuk di sungai, hingga risiko keselamatan (hanyut atau tenggelam). Beberapa komunitas dan keluarga di Minangkabau kini mulai kembali melakukan "Balimau di Rumah". Dengan menyediakan air limau di bak mandi sendiri, mereka berusaha menjauhkan diri dari hiruk-pikuk keramaian agar bisa lebih fokus pada niat pembersihan diri yang sebenarnya.

 

VI. Praktik Menyimpang dan Tantangan Syariat dalam Balimau

Meskipun niat awalnya adalah untuk bersuci (thaharah), dalam pelaksanaannya sering kali muncul hal-hal yang justru bertentangan dengan esensi persiapan ibadah Ramadhan.

 Dalam Islam, mandi adalah aktivitas privat yang harus menjaga aurat. Namun, di lokasi Balimau umum (sungai atau tempat wisata), sering terjadi campur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram dalam satu area pemandian yang sama. Alih-alih membersihkan diri dari dosa, aktivitas ini justru berpotensi menimbulkan dosa baru karena pandangan yang tidak terjaga dan persentuhan yang dilarang Banyak masyarakat yang terlalu asyik berendam dan bermain air di sungai atau tempat wisata dari siang hingga sore hari, sehingga melalaikan kewajiban shalat Ashar atau bahkan Maghrib. Mengejar tradisi (yang hukumnya bukan wajib) namun meninggalkan tiang agama (yang hukumnya wajib).

Sebagian kecil orang mungkin masih percaya bahwa air limau tersebut memiliki "kesaktian" untuk membuang sial atau membawa keberuntungan secara mistis. Koreksi Agama: Dalam Islam, air dan jeruk hanyalah media pembersih fisik. Keyakinan bahwa benda tersebut memiliki kekuatan gaib dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan syirik. Balimau sering kali berubah menjadi ajang pesta pora, konvoi kendaraan yang bising, hingga pemborosan uang untuk hiburan semata. Ramadhan seharusnya disambut dengan kekhusyukan dan kesederhanaan, bukan dengan euforia berlebihan yang menyerupai perayaan pesta duniawi. Membuang sampah makanan atau plastik bekas perlengkapan mandi ke sungai saat Balimau massal. Islam melarang pengrusakan alam (fasad fil ardh). Mengotori sungai dengan dalih "membersihkan diri" adalah sebuah kontradiksi yang nyata.

Cara Mengembalikan Esensi Balimau Menurut Para Ulama:

Untuk menutup bagian ini, kamu bisa menyarankan solusi yang sering digaungkan oleh para tokoh agama di Sumatra Barat:

  1. Balimau di Rumah: Mandi dengan ramuan limau di kamar mandi masing-masing lebih terjaga aurat dan kekhusyukannya.
  2. Niat yang Benar: Meluruskan niat bahwa mandi ini hanyalah sarana kebersihan fisik, sementara pembersihan batin dilakukan dengan taubat dan saling memaafkan.
  3. Fokus pada Ibadah: Menjadikan momen Balimau sebagai penanda waktu untuk segera berangkat ke masjid melaksanakan shalat Tarawih pertama.

 

MEMAKNAI MUSIBAH SEBAGAI PINTU MENUJU KEBAIKAN

 


"Belajar dari galodo dan arus; tentang bagaimana pendinginan bukan akhir dari cerita, melainkan cara alam mencuci hati agar lebih tangguh bersujud."

 


Pagi itu, mungkin rencana kita sederhana: pergi ke sawah, membuka kedai, atau sekadar menikmati kopi di bawah kaki Marapi yang kokoh. Namun, alam memiliki bahasanya sendiri. Langit yang pekat dan pusaran air yang turun dari hulu seketika mengubah segalanya. Dalam sekejap, apa yang kita bangun dengan peluh bertahun-tahun rumah, ladang, hingga kenangan hanyut diterjang banjir dan galodo .

Bagi kita di ranah Minang, musibah bukan sekedar angka kerugian di berita televisi. Ia adalah tangis yang pecah di tengah pekatnya lumpur dan ketenangan saat melihat harta benda yang tak lagi berbekas. Rasanya seperti kehilangan pegangan; seolah-olah bumi yang kita pijak tak lagi ramah. Kita tertegun, bertanya-tanya di langit yang masih mendung: "Mengapa ujian ini begitu berat?"

Namun, di sela-sela puing rumah yang hayut dan jalanan yang terputus, kita melihat sesuatu yang tak bisa dihanyutkan air: ketangguhan. Di tengah duka, ada tangan yang saling menggenggam, ada dapur umum yang berdiri karena kepedulian sesama, dan ada sujud yang jauh lebih dalam di hamparan sajadah yang tersisa. Banjir ini, meski menyisakan luka yang menganga, seolah menjadi cara paksa alam untuk membasuh hati kita dari debu kesombongan, mengingatkan kita bahwa tak ada yang benar-benar kita miliki selain sandaran kepada Sang Pencipta. 

Seringkali, saat musibah besar melanda seperti banjir yang menghantam pemukiman, bisikan pertama yang muncul di benak adalah rasa bersalah: 

"Apakah ini kutukan? Apakah kita dihukum?" 

Sudut pandang ini seringkali justru melumpuhkan semangat untuk bangkit karena kita merasa “dibuang” oleh keadaan. Namun, untuk menikmati musik yang nikmat, kita perlu menggeser lensa pandang kita melalui dua pendekatan:

Musibah sebagai "Proses Pembersihan

        Ibarat air banjir yang menyapu segala kotoran, musibah seringkali datang untuk "mencuci" hati kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mulai silau dengan harta, sombong dengan jabatan, atau lalai dengan urusan akhirat. Air yang menghanyutkan harta benda fisik sebenarnya sedang mengingatkan kita pada hakikat bahwa tak ada yang abadi. Ia membersihkan kita yang terlalu kuat di dunia, memaksa kita kembali bersih secara spiritual, dan menyadarkan bahwa keselamatan nyawa serta iman jauh lebih berharga dari sekedar materi yang bisa dicari Kembali.

    Di ranah Minang, kita mengenal pepatah “Alam takambang jadi guru.” Alam yang sedang tidak bersahabat ini adalah guru yang keras namun jujur. Musibah menguji seberapa dewasa kita dalam merespons ketetapan Tuhan. Pendewasaan terjadi saat kita berhenti merutapi nasib dan mulai bertanya, "Bagaimana kita memperbaiki drainase ke depan?" atau "Bagaimana kita lebih peduli pada kelestarian hutan di hulu?

    Secara sosial, musibah mendewasakan masyarakat. Ia menumbuhkan solidaritas yang kuat—yang muda membantu yang tua, yang mampu membantu yang kekurangan. Kedewasaan ini lahir karena kita dipaksa keluar dari zona nyaman untuk menjadi manusia yang lebih tangguh dan peka. Meskipun kita mencoba memahami bahwa musibah adalah proses pembersihan dan pendewasaan, bukan berarti kita dilarang untuk merasa sakit. Seringkali, saat seseorang tertimpa musibah banjir atau kehilangan harta benda, ada tekanan untuk "cepat-cepat sabar" atau "langsung ikhlas". Padahal, sabar bukan berarti tidak merasa, dan ikhlas bukan berarti tidak menangis. Sangat manusiawi jika saat ini hati Anda dipenuhi rasa sesak, kecewa, atau bahkan amarah melihat rumah yang berlumpur dan usaha yang hancur. Mengakui bahwa kita sedang "tidak baik-baik saja" bukanlah tanda lemahnya iman. Justru, ini adalah pengakuan jujur ​​yang akan membatasi kita sebagai hamba. Luka yang tidak diakui tidak akan pernah sembuh; ia hanya akan terpendam dan menjadi racun di kemudian hari. Lalu, bagaimana menghubungkan kesedihan ini dengan konsep "pembersihan" yang dibahas sebelumnya?

Bayangkan sebuah luka fisik yang kotor. Untuk membersihkannya agar tidak infeksi, luka itu harus disiram dengan cairan antiseptik. Rasanya perih, terkadang membuat kita ingin menjerit. Kesedihan dan amarah yang kita rasakan saat ini adalah "rasa perih" dari proses pembersihan jiwa tersebut.

Pendewasaan tidak terjadi dalam semalam. Air mata yang jatuh saat melihat puing-puing pasca-banjir adalah bagian dari proses lunturnya ego kita. Kita sedang dipaksa untuk melepaskan beban emosional agar nantinya bisa berdiri lebih ringan dan lebih kuat.

Jangan menambahkan beban musik dengan rasa bersalah karena Anda merasa sedih. Tuhan menciptakan air mata agar ada jalan bagi sesak di dada untuk keluar. Menangisilah jika itu meringankan, mengadulah pada Sang Pemilik Hidup jika itu menenangkan. Dengan mengakui kerapuhan ini, kita justru sedang membuka pintu bagi kekuatan yang lebih besar untuk masuk.

Musibah sebagai Sekolah Kerendahan Hati

Secara spiritual, musikbah bukan datang untuk menghancurkan harkat manusia, melainkan untuk meruntuhkan dinding kesombongan yang tanpa sadar kita bangun setiap hari. Dalam perspektif ini, ada dua hal besar yang sedang terjadi di batin kita:Seringkali, saat hidup berjalan lancar—bisnis sukses, kesehatan terjaga, dan rumah tangga tenang—kita merasa bahwa kitalah pemegang kendali penuh atas kehidupan. Kita merasa hebat karena usaha kita sendiri.

Banjir atau galodo datang untuk meruntuhkan ilusi tersebut. Dalam hitungan jam, alam menunjukkan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar di luar kendali manusia. Di hadapan terjangan udara, tidak ada bedanya rumah mewah atau rumah sederhana. Kesadaran ini adalah "obat" bagi penyakit kesombongan, membawa kita kembali pada posisi asli sebagai hamba yang fakir dan membutuhkan pertolongan.

Musibah memaksa kita untuk menanggalkan jubah gengsi. Saat seseorang yang biasanya memberi harus rela mengantre di dapur umum, atau seseorang yang biasanya dilayani kini harus berjibaku membersihkan lumpur bersama tetangga, di sanalah kerendahan hati tumbuh.

Kita belajar bahwa kita saling membutuhkan. Musibah mengikis sekat-sekat kelas sosial. Di tengah bencana, semua orang berdiri di tanah yang sama, merasakan dingin yang sama, dan menggantungkan harapan pada Tuhan yang sama. Inilah nikmat spiritual yang tak ternilai: kembalinya rasa persaudaraan yang murni tanpa embel-embel jabatan atau harta.

Musik sering kali menjadi "tombol reset" bagi niat kita. Hal-hal kecil yang dulu kita abaikan—seperti lantai rumah yang kering, air bersih untuk berwudhu, atau sekadar tidur nyenyak—kini terasa seperti kenikmatan yang luar biasa. Kita tidak lagi fokus pada apa yang “hilang”, tapi mulai menghargai apa yang “tersisa”. Kerendahan hati membuat kita mampu melihat kenikmatan dalam kecil-kecilnya yang diberikan.

Salah satu hal yang paling menguras energi saat tertimpa musibah bukanlah musibah itu sendiri, melainkan penolakan kita terhadap kenyataan . Pikiran seperti "Seharusnya ini tidak terjadi," atau "Kenapa harus rumah saya yang hancur?" adalah bentuk perlawanan batin yang melelahkan. Ketika kita terus-menerus menyesali masa lalu ( "Andai saya bangun tanggul lebih tinggi," atau "Andai saya pindah lebih awal" ), kita sebenarnya sedang menghabiskan bahan bakar mental untuk sesuatu yang tidak bisa diubah. Perlawanan ini seperti mencoba menahan banjir udara dengan tangan kosong—sia-sia dan hanya membuat kita tenggelam dalam keputusasaan.

 Penerimaan Bukanlah Kekalahan

        Banyak orang yang salah mengira bahwa menerima kenyataan berarti menyerah. Padahal, menerima adalah strategi . Menerima berarti mengakui: "Ya, banjir ini terjadi. Ya, saya kehilangan banyak hal." * Begitu kita berhenti menyangkal, beban emosional yang tadinya digunakan untuk "marah pada keadaan" tiba-tiba lepas. Energi yang tersisa itulah yang sekarang bisa kita gunakan untuk berpikir jernih. Ibarat seorang nakhoda di tengah badai, ia tidak akan membuang waktu dengan memaki ombak. Ia akan menggunakan seluruh tenaganya untuk memegang kemudi dan menutup kebocoran. Dengan menerima bahwa lumpur sudah masuk ke dalam rumah, energi Anda tidak lagi habis untuk merutapi lantai yang kotor, melainkan dialokasikan untuk mengambil cangkul dan mulai membersihkan. Ketika hati sudah tenang karena telah menerima ketetapan, mata kita akan lebih mudah melihat solusi. Mungkin ada bantuan yang bisa diakses, ada ide yang lebih aman dari banjir, atau ada hikmah yang bisa dijadikan peluang usaha baru.

Di Minangkabau, kita mengenal semangat "Dima bumi dipijak, di nan rantiang dipatah." Artinya, di mana pun kita berada—bahkan di tengah-tengah kumuh sekalipun—kita harus mampu menyesuaikan diri dan menentukan langkah hidup yang baru. (HT)

 

 

Seni Menikmati Hidup Tanpa Syarat: Belajar dari "La Tahzan"

 

"Sering merasa cemas dan lelah dengan beban hidup? Simak ringkasan buku La Tahzan ini untuk menemukan cara berdamai dengan masa lalu dan meraih kebahagiaan sejati melalui perspektif iman dan pikiran positif."

Seni Menemukan Kedamaian di Tengah Badai: Ringkasan Inspirasi Buku La Tahzan

Kehidupan sering kali terasa seperti rangkaian ujian yang tidak ada habisnya. Di satu titik, kita mungkin merasa terjepit oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam atau dicekik oleh kecemasan akan masa depan yang belum tentu terjadi. Buku "La Tahzan" karya Dr. 'Aidh al-Qarni hadir bukan sekadar sebagai deretan teks motivasi, melainkan sebagai oase di tengah gurun pasir kehidupan yang gersang. Melalui pesan utamanya, buku ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kesedihan yang berlarut-larut adalah pencuri waktu yang paling nyata. Al-Qarni menekankan pentingnya hidup dalam "batasan hari ini," di mana kita belajar untuk memutus rantai penyesalan atas hari kemarin dan berhenti mencemaskan esok hari, karena satu-satunya realitas yang kita miliki adalah detik yang sedang kita jalani sekarang.


Kekuatan utama dari pemikiran dalam buku ini terletak pada pergeseran perspektif. Penulis mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar diri—seperti kekayaan atau status sosial—melainkan dari dalam hati yang rida terhadap ketetapan Sang Pencipta. Kita diajak untuk melihat setiap musibah sebagai cara Tuhan untuk "mencuci" jiwa atau melatih kekuatan batin kita. Dengan memperkuat iman dan tawakal, beban hidup yang tadinya terasa menghimpit perlahan akan terasa lebih ringan. Iman di sini berfungsi sebagai jangkar; meski badai masalah datang menerjang, batin kita tetap kokoh karena percaya bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan.

Selain aspek spiritual, buku ini juga memberikan solusi psikologis yang sangat praktis untuk mengusir rasa sedih. Salah satunya adalah dengan menjaga kesibukan diri. Al-Qarni berargumen bahwa pikiran yang kosong adalah tempat favorit bagi kesedihan dan keraguan untuk tumbuh. Dengan bekerja, membaca, atau membantu sesama tanpa mengharapkan ucapan terima kasih, kita sebenarnya sedang menyembuhkan diri sendiri. Berbuat baik kepada orang lain adalah obat bagi luka hati kita sendiri. Pada akhirnya, "La Tahzan" adalah sebuah seruan untuk bangkit dan merayakan hidup. Ia mengajarkan kita bahwa meski dunia ini tidak sempurna, kita tetap memiliki hak untuk bahagia selama kita mampu menjaga hati untuk tetap bersyukur dan pikiran untuk tetap positif.

Bongkar Kelemahan Demi Kemenangan: PKS Kota Pariaman Hadirkan Pengamat Politik dalam Raker 5 Tahun



    PARIAMAN – Berbeda dari biasanya, Rapat Kerja (Raker) DPTD PKS Kota Pariaman yang digelar Minggu (11/1) berlangsung penuh kejutan. Alih-alih hanya berisi agenda internal, partai berlambang padi dan bulan sabit ini justru sengaja "menelanjangi" diri dengan mengundang pakar luar untuk mengkritik performa mereka. Kehadiran Dr. Herry Effendi, praktisi pendidikan sekaligus pengamat politik, menjadi magnet utama dalam Raker ini. Di hadapan seluruh pengurus dan kader, Dr. Herry memberikan bedah kritis mengenai posisi PKS di mata masyarakat Pariaman. Beliau memaparkan beberapa poin krusial yang harus segera diperbaiki. Dr. Herry menyoroti celah komunikasi politik yang perlu diperbaiki agar pesan partai lebih mudah diterima oleh kalangan milenial dan Gen Z di Pariaman. Ia mengusulkan agar PKS tidak hanya dikenal sebagai partai dakwah, tetapi juga memperkuat posisi sebagai pionir solusi pendidikan dan ekonomi kreatif. Perlunya pendekatan yang lebih cair dan membaur dengan tradisi lokal tanpa menghilangkan jati diri partai.

    Ketua DPTD PKS Kota Pariaman terpilih, M. Yasin, S.Tp, menyambut baik kritik tajam tersebut. Anggota DPRD Sumbar ini menegaskan bahwa untuk menang di lima tahun ke depan, PKS tidak boleh antikritik.

"Kami mengundang Dr. Herry Effendi justru karena kami ingin tahu di mana letak kekurangan kami. Kita butuh perspektif objektif agar program kerja lima tahun ke depan bukan sekadar rutinitas, tapi benar-benar menjadi terobosan bagi warga Pariaman," ujar M. Yasin dengan tegas.

    Raker yang dibuka oleh Sekretaris MPW PKS Sumbar, H. Gustami Hidayat, S.Pt, MP, ini juga dihadiri oleh Muhajir Muslim, Lc (Ketua DPED Pariaman). Kehadiran para tokoh ini menunjukkan keseriusan PKS dalam menyelaraskan visi dari tingkat wilayah hingga ke tingkat daerah di Pariaman.

Dengan masukan dari akademisi dan sinergi para tokoh senior, PKS Kota Pariaman kini resmi memulai "maraton" politiknya dengan strategi yang lebih segar, terbuka, dan terukur. (HT)

Jaga Lumbung Pangan Sumbar: Muhamad Yasin Gencarkan Perda Perlindungan Lahan di Pariaman


    PARIAMAN, 25 Oktober 2025 – Upaya serius Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menjamin ketahanan pangan mendapat dukungan penuh dari legislatif. Anggota DPRD Provinsi Sumbar, Muhamad Yasin, S.TP, sukses menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) di Aula Rumah Makan Joyo Makmur Kota Pariaman.

        Dihadiri lebih dari 250 peserta, termasuk tokoh masyarakat, kelompok tani, dan Gapoktan dari Kota Pariaman dan Padang Pariaman, kegiatan dua sesi ini bertujuan membumikan payung hukum yang krusial bagi masa depan pertanian Sumbar.

        Muhamad Yasin dalam sambutannya menegaskan bahwa Perda ini lahir dari kekhawatiran akan berkurangnya lahan pertanian produktif akibat laju pembangunan. Ia menekankan bahwa tujuan utama Perda adalah menjamin ketahanan pangan yang berkesinambungan agar Sumbar tidak kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

    "Kita tidak ingin di daerah kita suatu saat nanti tidak lagi bisa swasembada pangan. Perda ini disusun agar dengan tetap terjaganya jumlah lahan pertanian pangan, Insya Allah swasembada pangan Sumatera Barat bisa dilestarikan," tegas Yasin.   

     Acara semakin komprehensif dengan kehadiran narasumber ahli, Syoprinaldi Nasridal Putra, S.P. (Kepala Balai Alsintan, Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar). Syoprinaldi menjelaskan bingkai hukum Perda tersebut, di mana substansi utamanya mencakup:

        Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B): Kewajiban Pemda menetapkan area spesifik yang tidak boleh dialihfungsikan dan harus dilindungi
        Pengendalian Ketat: Adanya larangan tegas dan sanksi bagi perorangan maupun korporasi yang melakukan alih fungsi lahan LP2B secara ilegal
        Insentif bagi Petani: Pemerintah memberikan dukungan berupa keringanan pajak, prioritas pembangunan infrastruktur irigasi, dan kemudahan akses pembiayaan sebagai kompensasi bagi petani yang berkomitmen menjaga lahan mereka.


Respon Peserta: Dukungan untuk Masa Depan Pangan

Sosialisasi ini disambut baik oleh peserta. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui secara detail tentang Perda ini dan menyatakan apresiasi positif.

"Kami sekarang tahu bahwa pemerintah berusaha keras melindungi areal pertanian pangan agar tidak tergeser pembangunan. Adanya Perda ini memberikan kami kepastian hukum dan motivasi untuk tetap mengelola sawah," ujar salah satu perwakilan kelompok tani.

Dengan adanya Perda ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan petani dapat semakin kuat, memastikan lahan pertanian pangan di Kota Pariaman dan Padang Pariaman tetap lestari demi keberlanjutan swasembada pangan Sumatera Barat. (Djoe)

Aksi Nyata Kader PKS: Muhamad Yasin Guyurkan 15 Mesin Tempel Baru untuk 13 Kelompok Nelayan Pariaman

 





PARIAMAN — Tak hanya berjanji, Anggota DPRD Sumatera Barat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhamad Yasin, STp, langsung tancap gas merealisasikan komitmennya untuk nelayan. Tepat pada 30 September 2025, Yasin menyerahkan total 15 unit mesin tempel—senilai miliaran rupiah—kepada 13 kelompok nelayan dari Kota dan Kabupaten Padang Pariaman.

Bantuan yang diserahkan di Aula Serba G


una Desa Pasir Sunur ini bersumber dari Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) tahun 2025. Rinciannya, 8 kelompok nelayan mendapat jatah 6 unit mesin tempel 40 PK, sementara 5 kelompok lainnya menerima 9 unit mesin tempel 15 PK. Bantuan ini diharapkan mampu mendongkrak hasil tangkapan dan memperpendek waktu melaut.

Dalam sambutannya, Yasin menegaskan bahwa aksinya ini adalah bukti nyata PKS senantiasa bersama rakyat.

"Ini adalah bentuk komitmen saya dan PKS untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Baru dilantik 27 Agustus 2025, kami langsung bergerak cepat di akhir tahun itu juga mengalokasikan program strategis untuk nelayan, petani, UMKM, hingga infrastruktur. Ini janji dan komitmen kami untuk menyejahterakan masyarakat di dapil," tegas Yasin.

Kepada para penerima manfaat, Yasin berpesan dengan nada santai namun tegas. "Saya tak mau dengar mesin ini dijual! Gunakan sebaik-baiknya untuk melaut. Insya Allah, tahun depan kami akan sisir lagi dan mengalokasikan bantuan serupa bagi nelayan yang belum terjangkau."

Acara yang dipenuhi antusiasme ini turut dihadiri oleh Kabid Perikanan Tangkap DKP Provinsi Sumbar serta Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan dari Kota dan Kabupaten Padang Pariaman.